Rabu, 24 Oktober 2012


Saksikan Bahwa AKU SEORANG MUSLIM 
Salim A. Fillah



Menjadi muslim adalah menjadi kain putih. Lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan cinta; rahmat bagi semesta alam. Aku jadi rindu pada pelangi itu, pelangi yang memancarkan celupan warna ilahi. Telah tiba saatnya, derai berkilau Islam tak lagi terpisahkan dari pendar menawan seoarang muslim. Dan saksikan, bahwa aku seoarnag muslim.

Alur  yang dirasakan buku ini adalah  dari pemusnahan kain-kain rombeng, lalu setingkat demi setingkat menghadirkan sebuah kain baru. Dia disusun dari benang-benang yang dipintal, yang tahan uji, ditenun dalam jalinan cinta suci, dijahit pola-polanya, hingga dikenakan padanya tiara iman. Itulah pakaian takwa. Dan pakaian takwa itulah yang terbaik.
Buku ini telah meminjam konsep Ustadz Hasan Al Banna untuk merencanakan sebuah perubahan dunia. Konsep yang dikenal dengan maraatibul ‘amal itu asas nya terdiri atas: ishlahun nafs (perbaikan diri), binaa-ul usrah al muslimah (pembinaan keluarga islami), irsyadul mujtmaa’ (pengarahan masyarakat), tahriirul wathan (pembebasan tanah air), ishlahul hukumaat (perbaikan pemerintahan) dan ustadziyatul ‘alam (guru semesta), sebagaimana yang telah Salim A Fillah tulis dalam prolognya.

Sejarah dijadikannya pelajaran berharga. “Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu persatu, manakala didalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal jahiliah.” (Umar ibn Al Khathtab)
“Tanyakan saja pada sejarah. Ketika pasukan soviet yang komunis akan berangkat berperang pada PD II, sebagian di antara mereka melakukan desersi. Alasanny sangat realistis, “tidak ada bedanya apakah kami mati sebagai patriot pembela Negara atau sebagai pecundang yang bersembunyi dikolong ranjang. Karena kami Tak punya Tuhan yang akan membalas perbuatan baik kami di kehidupan selanjutnya!”

 Menumbuhkan tekad karena Janji-Nya         
“Maka kini, mungkin dalam keterbatasan kita, bercita-cita tinggilah.. kerjakan semuanya yang kau bisa sampai batas kelelahan menghampiri. Malam ini, saat kau rasakan pega dip unggung, ngilu dikaki, dan nyeri di sendi, berbaringlah bertafakur ditempat tidur. Bermuhasabahlah sambil merilekskan tubuhmu. Rasakan kenyamanan istirahat yang sangat. Lalu, bolehlah engkau bersenandung seperti dilantunkan Hijjaz:
Selimuti diriku
Dengan sutra kasih sayangMu
Agar lena nanti, kumimpikan surge yang indah
Abadi
Pabila ku terjaga
Dapat lagi kurasai
Betapa harumnya surge fidaus
Oh illahi
(Hijjaz; sebelum mata terlena)
Semoga segala kelehanmu, berhadiah pijatan lembut bidadari..”

Hingga cinta pun akan bersemi.
“Adakah yang tak suka dibimbing ayah seperti Luqman, yang selalu memanggil putranya, “ Ya Bunayya..”? Adakah yang tidak rundu beribukan Khansa, yang disaat keempat putranya menghadap Allah yang telah memuliakanku dengan syahidnya mereka.”? dan adakah yang tak mendamba rumah tangga berisi Ibrahim, Hajar, dan Isma’il? Adakah?”

Begitu banyak hikmah dalam kehidupan yang dituangkan dalam buku ini. Kata sentilan pun jadi sebuah pengingat. “yang jelas berhala-berhala itu bermetamorfosis. Sempurna. Bagaikan kupu-kupu”
Beginilah penulis menungkan semangat,, membuka sejarah, mengangkat fakta, menyampaikan firmanNya. Tiap-tiap bab memberikan tahapan-tahapan tersendiri bagi kisah hidup seorang manusia.
“Para hawari murid ‘Isa telah tiada. Sementara yang mengaku menjadi ahli kitab pewaris mereka telah berpaling dari Lailaha Illallaah. Saudaraku, ini giliran kita. Kita muslim sejati, yang selalu mengajak semua manusia kembali pada kebenaran firman, tapi kalau mereka berpaling, cukup katakana dengan bangga dan penuh kemuliaan bahwa kita adalah muslim.
Katakanlah: "Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah". jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang (muslim) yang berserah diri (kepada Allah)". Ali Imran :64”

hingga akhirnya hati ini menggerakan ku  dan berteriak SAKSIKAN BAHWA AKU SEORANG MUSLIM.