Kamis, 05 Januari 2012

Selingan Cinta dari Khazanah Lama



Sebuah kisah cantik yang dikutip oleh Syaikh ‘Abdullah Nashih ‘Uluwan dalam taujih Ruhiahnya. Kisah menarik ini, atau yang semakna dengannya juga termaktub dalam karya agung Ibnul Qayyim Al Jauziyah yang khusus membahas para pecinta dan pemendam rindu, Raudatul Muhibbin.

Ini kisah tentang seorang gadis yang begitu cantiknya. Dialah sang bunga disebuah kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari dari taman surga.
Sebagaimana wajarnya sang gadis memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suarannya dan belum tergamabar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai Nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaqnya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa kesalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaanya telah berulang kali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan doa para ibu yang merindukan menantu.
Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisanh tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu , tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itupun tiba sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak bisa lagi menunggu. Ia telah terbakar rasa rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama.
Maka ditulisnya surat itu, memohon bertemu.
Dan ia mendapatkan jawaban. “Ya”, katanya.
Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis mendapati bahwa apa yang ia banyangkan tak seberapa dibanding aslinya, kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikan bicara, karena demikian kebiasaan yang ada pada keluargannya.
“Maha Suci Allah”, kata si gadis sampai sekilas kembali memandang. “Yang telah menganugrahi engkau wajah yang begitu tampan.”
Sang pemuda tersenyum. Ia menundukan wajahnya. “Andai kau lihat aku,” katanya, “Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukinya. Katika ulat-ulat bersarang dimata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah in hanya sementara jangan kau tertipu olehnya.”
“Betapa inginnya aku”, kata si gadis, “ Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.”
Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. “Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tapi aku coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka, yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena diakhirat kelak hannya akan menjadi rasa sakit, dan penyesalan yang tak berkesudahan.”
Si gadis tertunduk , “Tapi tahukah engakau”, katanya melanjutkan, “Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku didadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapuskan kesempitan dan kesusahan.”
“Jangan lakukan itu kecuali haknya,” kata si pemuda. “sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama  lain akan menjadi seteru. Kecuali merekan yang bertaqwa.”
Kita cukupkan sampai disini sang kisah. Mari kita dengar komentar Syaikh ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan tentangnya. “apa yang kita pelajari dari kisah ini ?”, demikian beliau bertanya. “Sebuah kisah yang indah. Sarat denag ibrah dan pelajaran. Kita lihat sang pemuda demikian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketaqwaan kepada Allah.”
“TAPI”, kata beliau memberi catatan. “Dalam kisah indah ini kita tanpa sadar melupakan satu hal. Bahwa sang pemuda dan gadis melakukan pelanggaran syari’at. Bahwa sang pemuda mencapur adukan kebenaran dan kebatilan. Bahwa ia meniupkan nafas da’wah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah, sang gadis sama sekali tak mengindahkan da’wahnya. Bahkan ia makin berani dalam kata-kata, mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syari’at Allah.”
“Kesalahan itu”, kata Syaikh ‘Abdullah Nashih ‘Ulwan memungkasi, “telah terjadi sejak awal.” Apa it? “Mereka berkhalawat! Mereka tak mengindahkan peringatan syariat dan pesan sang nabi tentang hal yang satu ini.”
Di jalan cinta para pejuang, mari kita hati-hati terhadap jebakan syaitan. Karena yang tampak indah selalu harus diperiksa denga ukuran kebenaran.

Begitulah syaria’at Allah tertegak agung bagai mercusuar bagi kita dalam melayari kehidupan. Kita tak bisa memintanya mengubah arah ketika kita dilanda gejala menabraknya. Kitalah yang harus mengubah arah kita. Kitalah yang harus cerdas mengelola kemudi diri. Hingga cinta pun bersujud di mihrab taat. Inilah jalan cinta para pejuang.

Dikutip sebagian dalam buku “jalan cinta para pejuang” karya Salim A. Fillah